Pentingnya Hubungan Sosial

Cerita singkat ini diangkat dari sebuah pengalaman hidup seorang lelaki yang sudah berstatus menjadi kepala keluarga, beliau menjelaskan pentingnya bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat, jangan sampai kesibukanmu menjadi penghalang untuk bersosialisasi dengan tetangga ataupun orang lain disekitar anda, Yuk simak ceitanya!

Teman kerja saya bercerita kalau di kompleks tempat tinggalnya ada tetangganya yang meninggal dan seminggu kemudian baru diketahui, karena orangnya selama masa hidupnya selain menyendiri karenna sudah tua, juga memang masa bodoh dengan lingkungannya. Itu pun diketahuinya setelah ada saudaranya yang berkunjung karena berhari2 ditelepon tidak ada jawaban. Dan betapa terkejutnya saudaranya tersebut begitu pintu didobrak dan mendapati orang tersebut sudah membujur kaku dan membusuk menjadi mayat.

Satu lagi, ada cerita sewaktu saya di Sumedang sekitar tahun 2004, ada seorang lelaki yang juga sudah sepuh di daerah Dano, Sumedang Utara, pagi pagi dia jalan kaki sendirian ke arah kota. Di tengah jalan tiba tiba dia terserang jantung dan meninggal seketika di trotoar jalan. Nah masalahnya orang tidak ada yang mengenal dia, sampai akhirnya seorang tukang beca membawa bawa mayatnya dan menyebarkannya ke lokasi terdekat di situ. Namun tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Hingga lewat tengah hari baru ada orang yang mengenalnya dan akhirnya sang mayat pun dibawa ke rumahnya. Yang mengejutkan adalah, rupanya semasa Orde Baru dia adalah seorang anggota DPRD. Sungguh ironis, seorang wakil rakyat nyaris tidak ada yang mengenalnya.

Mengingat hal hal tersebut saya kok suka miris sendiri jika melihat kesibukan saya saat ini yang sering pulang larut, untuk sekedar Sholat berjamaah ke mesjid saja tidak sempat. Sehingga ya itu sangat sedikit waktu untuk bersosialisasi. Dan saya suka membayangkan, kalau seandainya mati, lha orang orang di lingkungan tidak banyak yang tahu saya. Paling yang tahu cuma satu gang saja.

Hingga suatu hari istri bilang pada saya bahwa dia dimintain tolong untuk mengajar ngaji anak anak di TPA Mesjid Komplek, dan spontan saya iya’in. “Iya deh, didukung. Hitung2 mamah mewakili babah bersosialisi di lingkungan. Jadi kalau suatu ketika babah mati, orang orang akan tahu. Oh, itu suaminya ibu Wulan yang mengajar di TPA itu, ya?” Kata saya..

Begitulah cara bermasyarakat yang bisa kami lakukan saat ini. Yaitu berbagi peran, daripada tidak sama sekali. Hitung hitung menitipkan diri jika meninggal nanti setidaknya (Insya Allah) ada yang akan mengurus. Pengennya sih jika sudah tidak terlalu dibebani kesibukan, diberikan panjang umur serta kesehatan, ya bisa lebih peduli gitu..

 

Semoga kita semua bisa mengambil pembelajaran dari cerita singkat ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *