Krisis Identitas

Pembahasan kali ini cukup menarik, karena akan membuat orang-orang menjadi lebih mawas diri terhadap fenomena akun palsu serta motif pengguna akun palsu di media sosial yang bergentayangan di internet.

Fake account, akun kloningan atau akun palsu memang sedang marak atau menjadi trend tersendiri dan banyak beredar di jagat maya (internet).
Apa itu fake account, akun kloningan dan akun palsu ?

Baik akun palsu, maupun akun anonim, dan lain sebagainya merujuk pada pemaknaan yang sama (selaras). Yakni, akun yang memiliki identitas yang tidak asli.
Fake account umum nya disebut sebagai akun palsu (fiktif) yang artinya, data-data yang digunakan oleh para pemalsu akun adalah data-data milik orang lain.
Data data yang berasal dari sumber manapun.
Data-data yang di gunakan meliputi nama, foto, identitas alamat, dan lain-lain.

Seperti yang telah kita ketahui, salah satu indikator akun palsu adalah, mereka tidak akan memiliki banyak koleksi foto² yang lengkap dan konsisten dengan foto-foto yang mereka bagikan sebelum sebelumnya.
Konsisten yang dimaksud disini adalah meliputi foto yang di upload sangat tidak relevan. Dengan kata lain foto yang mereka bagikan selalu berganti-ganti dengan minim’nya resolusi foto/gambar.
Hampir di semua media sosial pasti ada beberapa oknum yang membuat akun palsu dengan tujuan/motif tertentu.

Ada pula point penting yang harus dicatat dalam bermedia sosial ialah:

Setiap pengguna memiliki kesempatan yang sama untuk berkomentar, menyampaikan pendapat, mengolah informasi, lalu kemudian menyebarkannya kepada pihak lain.
Perbedaan pendapat menjadi konsekuensi logis dari teknologi informasi yang disruptif macam media sosial.

Namun fatalnya, kita kerap kali dibanjiri dengan banyak hal-hal yang kontradiktif satu sama lain. Seperti:
– Hoax (kabar palsu)
– Twitwar (perang kicauan di Twitter)
– Hate speech (ujaran kebencian), dan bullying (perundungan/penghinaan) yang memenuhi timeline (linimasa) kita di berbagai macam akun jejaring media sosial.

Pada dasarnya, media sosial mengelompokkan para penggunanya berdasarkan identitas asli mereka. Namun, beberapa oknum diantara mereka yang dengan sengaja menggunakan identitas palsu, memanfaatkan hal ini sebagai bagian daripada bentuk pencarian atensi, berupa keuntungan pribadi maupun kepuasan batin, seperti:
Penyebaran link phishing, flaming, trolling, tindakan SARA yang memancing keributan antar pengguna sosial media lainnya.

Dalam hal ini, mereka berani melakukan hal tersebut dengan akun palsu dikarenakan mereka merasa terbebas dari berbagai macam ancaman konsekuensi, terkait aktifitas mereka di jejaring media sosial. (facebook, twitter, instagram dll)

Disebutkan juga bahwa, dengan dipalsukannya identitas asli, maka semakin mempermudah pengguna akun tersebut untuk memanfaatkan berbagai cara agar keberadaannya diakui oleh lingkungan sosial medianya.

Salah satunya dengan menggunakan media sosial yang menyediakan berbagai macam layanan/fasilitas yang memberikan kesempatan bagi remaja untuk dapat mengunggah atau mendokumentasikan dan mempublikasikan setiap aspek dalam hidupnya.

Adanya keinginan untuk mempublikasikan diri, akan tetapi malu dengan identitas pribadi yang asli, menyebabkan remaja menggunakan identitas-identitas tertentu dalam akun media sosialnya yang terkadang tidak sesuai dengan identitas mereka yang sesungguhnya.
Hal inilah yang disebut dengan krisis indentitas.

Hal tersebut dilakukan karena (remaja) para pengguna akun palsu tersebut mengalami krisis kepercayaan diri yang sangat tinggi dalam hal mempublikasikan siapa diri mereka yang sebenarnya.
Sehingga mereka perlu menggunakan identitas lain (memalsukan identitas) agar tidak merasa malu ketika mereka mempublikasi aktifitasnya.

Beberapa kategori krisis yang dialami oleh seseorang diantaranya:
(1) Krisis bahasa.
– Menggunakan bahasa Indonesia yang kurang baik dan benar.
– Menyematkan kalimat yang tidak senonoh dalam alur percakapan diskusi.
– mencampur’adukannya dengan bahasa asing (yang buruk) yang kini tengah menjadi trendsetter dikalangan para pengguna media sosial.

(2) Krisis identitas
diwujudkan dalam bentuk seperti:
– mengganti atau memodifikasi nama asli.
– memalsukan asal daerah, tempat tinggal, sekolah/lembaga pendidikan, tempat bekerja, dan pekerjaan.
– menggunakan foto orang lain/anime/aktor/penyanyi kesukaan sebagai foto profil.

Ada beberapa motif & tujuan mendasar pada akun palsu di media sosial seperti:

– Akun palsu dibuat untuk memantau aktivitas seseorang atau kelompok.
– Akun palsu dibuat untuk tujuan bisnis.
– Akun palsu dibuat untuk kepuasan batin atau kesenangan.
– Akun palsu dibuat untuk menggiring opini publik.

1. Memantau kegiatan atau aktivitas seseorang dan kelompok.

Bagian ini meliputi seseorang yang tidak menyukai, maupun seseorang yang menyukai.
Pelaku yang menyukai ingin lebih mengetahui atau memantau tentang target dengan sesi percakapan yang akan diajukan secara lebih mendalam, atau hanya sekedar mengobati rasa ke ingin tahuannya.

Sementara pelaku yang tidak menyukai ingin mengetahui & memantau kelemahan target, berdasarkan pencarian celah kesalahan kesalahan kecil pada target, untuk dijadikan bahan penyerangan secara personal.

2. Dibuat untuk tujuan bisnis.

Pemalsu akun jenis ini biasanya adalah pelaku yang sudah memiliki pengetahuan lebih di bidang internet marketing (IM).
Akun palsu jenis ini menjadi akun multi fungsi, mengingat akun ini dapat dijadikan media promosi link affiliasi, link tersembunyi yang dipendekan, promosi website atau blog (situs) dan lain sebagainya.

Akun palsu seperti ini juga bisa di jual ke penampungan fake akun dengan beberapa ketentuan yang disepakati.
Seperti jumlah follower aktif dan lain sebagainya.

3. Dibuat untuk kesenangan, hiburan atau kepuasan batin.

Jenis akun ini di buat oleh para pelaku hanya untuk kepuasan diri secara pribadi dan dijadikan sebagai akun pelepas amarah, kesenangan, kenakalan dan sebagainya.
Akun jenis ini kebanyakan dimiliki oleh pelaku yang sebetulnya masih gampang untuk dikelabui juga dengan metode yang serupa.

5. Dibuat untuk mengarahkan opini publik.

Diarahkan atau digiring berdasarkan ideologi dan ambisi pembuat akun palsu.
Jenis akun ini biasanya di buat oleh segelintir kelompok, organisasi atau individu yang memiliki kepentingan dalam strata politik.

Akun palsu seperti ini bangkit di masa-masa kritis atau bangkit pada masa-masa dimana situasi dunia perpolitikan sedang memanas.

Tak sedikit akun palsu jenis ini akan memuat informasi secara terus menerus tanpa henti di media sosial tentang suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Yups..
Itu tadi adalah sedikit penjelasan dan beberapa point penting mengenai fungsi dan motif dari beredarnya eksistensi akun palsu.

Apapun yang kita lakukan baik di dunia nyata maupun di dunia maya, sudah sepatutnya juga kita perlu mempertanggung jawabkannya dengan baik. 🙂
Pergunakanlah sosial media dengan bijak.
Karena akunmu otoritas mu.

Alangkah baiknya jika kita bisa mengekspresikan akun berdasarkan ciri & karakteristik kepribadian kita sendiri.
Tanpa harus mencemarkan serta menjatuhkan nama baik orang lain.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *