Apakah Remaja Hijrah Harus Selalu “Sepaket” Dengan Kubu 02?

Tulisan ini hanyalah opini pribadi yang diambil dari fenomena yang terjadi pada dunia Sosial Media di Indonesia khususnya Facebook, Untuk teman-teman yang merasa tersinggung oleh tulisan ini, Mohon kiranya menyampaikan pesan secara langsung dan baik kepada penulis.

Setelah diperhatikan akhir-akhir ini, rupanya banyak sekali postingan-postingan yang berkesan mencampurkan Hijrah dengan keburukan rezim sekarang , entah itu benar adanya ataupun hanya mendapat info dari Grup WA ataupun berita di Sosial Media, Namun belakangan ini, terdapat beberapa dari orang-orang yang mempublish postingan berbau hijrah dan keagamaan terlihat juga pada kubu Pemerintahan (01), dan langsung mendapat berbagai tanggapan dari mayoritas Remaja Hijrah yang terkesan memihak kepada kubu 02 “kok Kamu orangnya pro 01? Kamu gak lihat apa para Junjungan kita pada dipenjarakan? Kamu gak sadar apa tenaga kerja & pengusaha dikuasai orang Aseng?, Jangan bagikan kebaikan dia, agama kita selalu didzolimi, katanya kamu sudah Hijrah membela agamamu, bagikan saja kejelekan2 rezim sekarang!” Karena konotasinya jika men-citra-kan relijius dan Islami itu berarti otomatis kubu 02, jadi sangat wajar jika postingan berbau relijius yang memihak kepada kubu 01 ditanggapi berbagai respon negatif dari remaja hijrah yang lain.

Wahai para remaja yang telah merasa melakukan “Hijrah” yang lahir setelah Orde Baru tumbang, janganlah kamu menjadi pribadi yang memandang sesuatu hanya dari satu sisi, jangan sampai kalian menjadi korban dari para pelaku kampanye hitam para politisi, perlu  kita sampaikeun disini, bahwa kita harus tahu akan sejarah, harus bisa membaca dan mengetahui sumber berita yang akan kita bagikan, jika keburukan salah satu kubu kalian merasa sedang kalian alami sekarang, maka dari sisi yang lain apakah ada yang merasa atau melihat bahwa rezim orde baru akan kembali dibangkitkan oleh salah satu kubu? Sebelum kalian memuja masa-masa orde baru seperti yang kebanyakan seliweran di Media Sosial, mari kita baca kebijakan-kebijakan masa orde baru yang saya dapat dari seorang dosen Universitas ternama di Bogor ini, berikut penjelasannya:

1. Pada jaman Orde Baru-lah judi dilegalken oleh Negara – yang bernama PORKAS dan SDSB – dilangsungkan di seanteo negeri, dan membuat banyak masyarakat berhalusinasi serta banyak keluarga yang jadi berantakan. Masa di mana para Dukun panen dan berlimpah materi sebab jadi tempat bertanya orang orang yang cari kode buntut, dan Kuburan ramai dikunjungi berharap dapat ilham (Silakan di-search sendiri deh apa itu PORKAS dan SDSB). Apakah judi merupaken perilaku Islami? Apakah mengharapkan nasib ke kuburan dan dukun bukan perbuatan syirik? Saya yakin kalian yang telah hijrah mampu menjawabnya.

2. Orde Baru sebetulnya Alergi terhadap Islam, coba cek saja raport ibu kalian, apakah di fotonya ada yang pakai jilbab semasa SMP dan SMA-nya? Coba cek pula peristiwa Tanjung Priok, Haur Koneng, dsb.

3. Pada masa Orde Baru Indonesia mulai mengenal utang luar negeri dan dampaknya tidak berakhir hingga hari ini, dan coba dicek siapa yang jadi perantara pertama urusan utang ini..

4. Pada jaman Orde Baru pula Freeport diberikan kepada Asing.. Oleh? Bukankah anda semua anti asing, kan?

5. Pada zaman Orde Baru pula lah dimulai era Konglomerasi di Indonesia olah kaum yang kalian sebut “para Aseng,” kaum yang dipelihara, difasilitasi, dan jadi sapi perahan Orde Baru. Mereka ini biasanya dikumpulken di Tapos Bogor oleh Suharto di atas Tanah hasil rampasan dari rakyat yang luasnya berhektar-hektar. Lalu Suharto berpidato di hadapan mereka dan disiarkan di tipi, disaksikan oleh orang seantero negeri, dan rakyat pun tidak punya pilihan untuk menonton yang lain selain acara yang garing tersebut, karena TVRI satu satunya saluran televisi saat itu, dan disetir negara. Oh iya, kalian juga benci Aseng, bukan?

Serta masih banyak lagi alasan lainnya.

6. Dan satu hal yang perlu dicamken adalah, perilaku relijiyes Islami itu terekspresiken melalui adab dan kesantunan, tidak suka mencaci maki, menuduh tanpa dasar dan fakta alias memfitnah, dan menghujat pihak yang tidak sepaham. Apalagi sampai mengata ngatai dengan sebutan binatang. Kalian semua yang telah Hijrah tentu paham dengan apa yang saya maksudken? Astagfirullahaladzim!!

Nah, untuk point yang keenam ini, jika kalian yang berkomentar dipostingan ini dengan ujaran kebencian, mengata-ngatai dengan sebutan binatang, dsb., yang berkonotasi negatif; jangan aneh jika tiba tiba komentarnya mendadak hilang, bak Aktivis yang diculik pada masa Orde Baru yang tidak diketahui rimbanya hingga kini, atau seperti korban Petrus yang tiba tiba hilang, dan keesokan harinya sudah jadi mayat dengan bekas luka tembak di tubuh, dikarungin lalu ditaruh di pinggir jalan.

Tapi intinya begini deh, bagi saya saat ini, bisa saja bukan kubu 01, karena dia juga manusia biasa yang bisa salah, alias bukan Malaikat. Tapi siapa pun itu, dia bukan reinkarnasi Orde Baru.

Sekian.

Salam santun dan Salam damai.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *