Algoritme, Kampanye Digital & Melawan Hoax

Hari-hari ini, kampanye presidensial di Indonesia makin seru. Kampanye ini kayaknya adalah puncak kampanye digital di Indonesia. Jutaan konten digital seliweran setiap hari. Di sosial media, di Whatsapp, Line, you name it! Apakah ada yang beres? Ada, banyak. Tapi yang hoax juga gak keitung.

Nah.. sebagai target kampanye, kita sebaiknya punya pengetahuan lebih soal digital campaign. Kita mau sharing sedikit tentang lapis terluar strategi digital campaign yang namanya : ALGORITME

Algoritme dalam KBBI artinya, ‘Prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas’.
Arti gampangnya untuk istilah jaman sekarang : ‘Sistem yang membaca kebiasaan Anda sebagai pengguna internet.’

Sebelum mulai, ingat terus jargon ini!
*Data dan statistik nggak bisa bohong, tapi bisa dipake buat bohongin elo.*

Eh, gimana? Gimana??

Oke kita mulai, yaa..
Kita asumsikan, kita semua tau hashtag-2019-ganti-presiden yang ngetop itu. Anggep aja si pembuat hashtag adalah kubu A dan lawannya adalah kubu B. Di Instagram saja, hashtag itu sudah terhitung *1,1 juta post*. Belum di FB, Twitter dan sosial media lainnya.

Banyak yees?

Dengan angka itu, berhasil nggak campaignnya kubu A?
Kalo disuruh megang sosmed sebuah merk tertentu dan hashtagnya berhasil nyampe lebih dari 1,1 juta kali disebut, sih, Saya rasa timnya udah kipas-kipas jumawa.. :))

Apakah data itu BENAR?
Pasti benar! Itu mesin kok yang ngitung.

Apakah data itu bisa DIGUNAKAN oleh si tim A sebagai klaim keberhasilan campaign? AMAT SANGAT BISA!

Tapi, tunggu… apakah data itu 100% cerita tentang keberhasilan paslon A, sang pemasang hashtag?
Itu yang perlu disangsikan..

Algoritme MEMBACA SELURUH POSTING terkait dengan keyword/hashtag yang mau ditarik. Semua. Yang baik-baik, maupun yang menjelekkan.

Harus Hashtag? Oh enggak, sekarang gak harus hashtag kok.. Data algoritme bisa ditarik dari cuman kata-kata saja.

Biar gampang kita ngobrolin hashtag dulu deh. Tau hashtag kan? Itu lho tanda # buat nandain posting..
Kenapa nandain pake hashtag? Hashtag jadi penanda keyword yang paling mudah. Karena hashtag tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari, jadi hashtag dipasang untuk menandai sebuah post, baik SENGAJA maupun TIDAK SENGAJA.

Sengaja Anda pasti ngerti. Yang nggak sengaja tuh gimana? Nih contohnya:

1. Anda repost konten —isinya jelek-jelekin paslon B jagoan Anda— pas Anda repost, Anda kasih tambahan, “INI HOAX, JANGAN DIPERCAYA”. Seluruh cerita dengan keyword dan hashtag bikinan paslon A masih ada di dalam konten tersebut. Algoritme sosmed Anda membaca dan masuk ke kumpulan big data mengenai paslon A.
Selamat, selain udah bantu sebar hoax, Anda juga sudah bantu mensukseskan kampanye mereka.

2. Anda repost konten yang belum tau darimana sumbernya dan ditambah tulisan, “INI BELUM TENTU BENAR, TAPI NGGAK ADA SALAHNYA BERBAGI SUPAYA KITA WASPADA (jangan lupa pake 🙏🙏)” atau “MAU NANYA INI APAKAH BENAR?”
Selamat lagi, selain Anda sudah bantu sebar (mungkin) hoax, lagi-lagi 1 postingan yang mungkin terhitung membantu mensukseskan kampanye paslon sebelah.

3. Anda posting CERITA JELEK tentang paslon A yang Anda benci? Di dalamnya ada nama dia atau orang-orang kubunya dia? Algoritme sosmed Anda membaca itu, dan karena Anda menyebut nama mereka, maka masuklah ke big data mengenai paslon A.
And again, terima kasih telah membantu mensukseskan kampanye mereka.

4. Anda sharing cerita jelek/video/ gambar cerita jelek paslon A dari WA Grup ke WA Grup lainnya? Algoritme HANDPHONE Anda membaca itu, masuk ke kumpulan big data mengenai paslon A. (Iya, ini bisa.. sabar aja..)
Udah berapa kali nih saya ngasih selamet? Yes yes, tanpa sadar anda ikut serta mensukseskan kampanye mereka.

EH! GABISA GITUU!! Dimana logikanya? Orang gue COUNTER HOAX, kok! Orang gue sharing cerita jelek soal paslon A, kok malah bantu kampanye dia?!?

Inget jargon awal?
*Data dan statistik nggak bisa bohong, tapi bisa dipake buat bohongin elo.*

Yang Anda sharing terkait paslon A akan dikumpulkan oleh algoritme dan dijadikan kumpulan big data. Kumpulan big data ini oleh tim kampanye digital akan digunakan sebagai data KEBERHASILAN KAMPANYE – this part of data bisa dipake buat bohongin elu.

Lah emang yang konten ngejelekin paslon A gak ada datanya? Ya jelas ada, Itupun kalau Anda mau hitung manual satu-satu. Silahkan pelototin setiap postingan dari 1,1 juta postingan tadi, terus Anda urutin – jangan lupa, tiap detik datanya nambah :))

Saya mah ogah.

Nah.. Anda merasa punya kewajiban menjaga moral bangsa dan negara, menjaga masa depan Indonesia untuk anak cucu nanti yang harus kau wariskan?
Gimana dong cara menangkal hoax dengan algoritme sekaligus mensukseskan kampanye paslon B kesayangan Anda yang paling keren sejagad raya itu?

Cara gampangnya:
1. Anda liat hoax di sosmed? Jangan disebar, langsung REPORT. Caranya? Kalau di FB, di sebelah kanan post selalu ada pilihan tombol “give feed back to this post”, laporin. Kalo di Instagram, di sebelah kanan post ada tombol Report. Report! Jangan enggak! Disitu ada pilihan inappropriate sampe hate speech. Data algoritme dari konten akan berhenti ketika kita berhasil menyetop/menghilangkan postingan itu.

2. Mau ajak orang lain report? Jangan sebar beritanya tapi sebar linknya, lalu minta mereka report postnya.

3. Dapet link dari temen buat report sebuah postingan? Langsung bantu report! Semakin banyak orang melapor, semakin cepet berita itu dihilangkan oleh sistem.

4. Anda lihat berita baik hasil kerja paslon jagoan Anda? Jika sudah yakin dapet dari sumber yang valid, SEBAR! Kalo perlu 1000 kali! Copy linknya, share dan minta mereka sebarin! Ingat, setiap post dihitung 1 oleh algoritme. Daripada nyebarin kampanye sebelah, mendingan naikin algoritme kubu paslon kesayangan kita semua!

5. Bikin konten sendiri tentang bagaimana kerja paslon jagoan Anda, beri puji-pujian, kasih link terpercaya, kalo perlu biar ngga dibilang hoax kasih foto hasil jepretan Anda sendiri. Dengan semakin banyak orang bersaksi, kampanye paslon jagoan Anda bakalan jauh lebih keren karena ini adalah kampanye yang namanya *User Generated Content*, atau yang biasa disebut anak sosmed sebagai konten generik. Percayalah, konten-konten generik adalah konten TERBAIK dari sebuah kampanye dan tak ternilai harganya! Algoritme membaca itu dan masuk ke kumpulan big data milik paslon kesayangan kita semua.

Jadi, Saya juga percaya, JANGAN DIAM! LAWAN HOAX!
Tapi… jadilah juga netizen yang pintar. Bukan netizen yang cuman bisa ngritik, tapi ternyata malah jadi alat ngegedein data algoritme kampanye paslon-sebelah-yang-menurut-Anda-bloon itu.

Last word, SELALU INGAT kalau mau sharing apa pun…

*Data dan statistik nggak bisa bohong, tapi bisa dipake buat bohongin elu*

#2019JanganMauDibohonginAlgoritmeLagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *